puisiku terbakar sinar mentari
mencuapkan asap, kabut
memancar ke segala arah
puisiku tinggal nama,judulpun
dihiraukan tidak, dibaca tidak
piuisiku terbakar seiring tanah
mengering dan retak
daudaun kering berhamburan, hilang
tanpa jejak sementara tangisku masih pecah
terisak
puisiku berserakan
seperti daun kering tak berharga
kata tak dimaknai
cerca menyirami
puisiku terbakar seiring curiga
mengerandakan hatiku
Jumat, 05 Juli 2013
MALAM ITU....KAMU
MALAM ITU....KAMU!!
Aku hanya ingin berlindung kepada malam
Sembunyi dari bayang yang tersisa pada temaram
Aku akan selalu tenggelam kedalam pelukan malam
Hingga aku terbuai di sunyinya yang membena
Izinkan malam hilang di kabut kelam
Saat obrolan rembulan turun dan tak berkawan
Peluklah malam
Erat
Peluklah malam
Kencang
Ia tak akan kembali kedua kali
Bahkan saat sunyi terbenam
Dan malam itu adalah kau
Yang tak sempat aku sentuh
Aku hanya ingin berlindung kepada malam
Sembunyi dari bayang yang tersisa pada temaram
Aku akan selalu tenggelam kedalam pelukan malam
Hingga aku terbuai di sunyinya yang membena
Izinkan malam hilang di kabut kelam
Saat obrolan rembulan turun dan tak berkawan
Peluklah malam
Erat
Peluklah malam
Kencang
Ia tak akan kembali kedua kali
Bahkan saat sunyi terbenam
Dan malam itu adalah kau
Yang tak sempat aku sentuh
Minggu, 12 Mei 2013
KATA CINTA
Ketika Cinta Terbata Kubaca
aku perlu segera bertanya-tanya
atau mencari padanannya dalam kamus
hingga benih yang mengada tak segera pupus
lantaran sejatinya cuma soal sinyal
yang lebih sering datang dengan nada janggal
ketika cintamu belum menentukan pelabuhannya
biarkan layar itu memandu ke setiap cuaca
tapi kalau itu adalah cinta untukku
akan aku nyalakan suar di mercu
biar arahmu tak kandas di cinta palsu
ketika cinta cuma mengirim gerimis
terimalah ia dengan selaksa jendela
kalau pun ia semakin menipis
cintalah jua yang membangun jembatan rasa
di antara kita
ketika cinta serupa air di mata
coba jaga mata airnya di muara hati
karena sendu bukan untuk etalase
apalagi jika itu hanya sebuah rasa semu
berilah cinta laksana air kehidupan
tak kan henti ia sebagai tetamu
ketika cintamu hanya serupa pesan singkat
sia-sia rasanya mencoba menyimpannya di hati
karena tanpa ragu ia akan lekas bersiloncat
meninggalkan noda yang takkan henti
menyapaku
pedih
ketika cintanya berkelebat menjauh
tak perlu kaujerat ia dengan imbauan sayang
biarkan saja kehampaan belaka yang ia rengkuh
sementara kasihmu tetap simpan dalam ruang
nan tak lekang
ketika cinta-Mu terasa serupa asap
kuharus tahu hari-hariku yang lindap
karena sepertinya aku lebih menuhankanmu
dan engkau pun malah memerosokkanku
ke dalam gelap
ke jalan tanpa rambu
ketika cinta telah bersua luka
taruhlah amarah di sela hening
lalu endapkan hidup dalam cerita
sehingga ajal pun menjadi bening
ketika cinta tak kuasa lagi bersandiwara
ajak dia kepada kenyataan fabula togata
sehingga dunia lebih berwarna-warni
berseling antara yang fana dan yang nanti
cinta memang bukan buat bersembunyi
atau sekedar untuk berpura melipur hati
karena cinta memang berada di antaranya
komidi atau tragedi
ketika cinta menyemburat pesona bianglala
yang tetap diingat adalah kesementaraan
warna-warni itu tetaplah berbatas jangka
cepat lenyap tersapu waktu
yang bergeming selalu
tak peduli rindu
aku perlu segera bertanya-tanya
atau mencari padanannya dalam kamus
hingga benih yang mengada tak segera pupus
lantaran sejatinya cuma soal sinyal
yang lebih sering datang dengan nada janggal
ketika cintamu belum menentukan pelabuhannya
biarkan layar itu memandu ke setiap cuaca
tapi kalau itu adalah cinta untukku
akan aku nyalakan suar di mercu
biar arahmu tak kandas di cinta palsu
ketika cinta cuma mengirim gerimis
terimalah ia dengan selaksa jendela
kalau pun ia semakin menipis
cintalah jua yang membangun jembatan rasa
di antara kita
ketika cinta serupa air di mata
coba jaga mata airnya di muara hati
karena sendu bukan untuk etalase
apalagi jika itu hanya sebuah rasa semu
berilah cinta laksana air kehidupan
tak kan henti ia sebagai tetamu
ketika cintamu hanya serupa pesan singkat
sia-sia rasanya mencoba menyimpannya di hati
karena tanpa ragu ia akan lekas bersiloncat
meninggalkan noda yang takkan henti
menyapaku
pedih
ketika cintanya berkelebat menjauh
tak perlu kaujerat ia dengan imbauan sayang
biarkan saja kehampaan belaka yang ia rengkuh
sementara kasihmu tetap simpan dalam ruang
nan tak lekang
ketika cinta-Mu terasa serupa asap
kuharus tahu hari-hariku yang lindap
karena sepertinya aku lebih menuhankanmu
dan engkau pun malah memerosokkanku
ke dalam gelap
ke jalan tanpa rambu
ketika cinta telah bersua luka
taruhlah amarah di sela hening
lalu endapkan hidup dalam cerita
sehingga ajal pun menjadi bening
ketika cinta tak kuasa lagi bersandiwara
ajak dia kepada kenyataan fabula togata
sehingga dunia lebih berwarna-warni
berseling antara yang fana dan yang nanti
cinta memang bukan buat bersembunyi
atau sekedar untuk berpura melipur hati
karena cinta memang berada di antaranya
komidi atau tragedi
ketika cinta menyemburat pesona bianglala
yang tetap diingat adalah kesementaraan
warna-warni itu tetaplah berbatas jangka
cepat lenyap tersapu waktu
yang bergeming selalu
tak peduli rindu
KU JEMUR SEGALA DUKA
Seperti juga aku
Masih seperti malam yang lalu
Membaca syair bersuluh kunangkunang
Angin dingin memaksaku berkalikali
Membunuh rindu
Bilamana matamu menetesi sukmaku
Maka bergegas menengok awan
Sebisabisanya kutengadahi langit
Adakah walau sebiji bintang ?
Syair membasah di jelagamalam
Untai demi untai kujemur di ayatayat zikir
Kujemur segala duka
Masih seperti malam yang lalu
Membaca syair bersuluh kunangkunang
Angin dingin memaksaku berkalikali
Membunuh rindu
Bilamana matamu menetesi sukmaku
Maka bergegas menengok awan
Sebisabisanya kutengadahi langit
Adakah walau sebiji bintang ?
Syair membasah di jelagamalam
Untai demi untai kujemur di ayatayat zikir
Kujemur segala duka
Rabu, 01 Mei 2013
JIKA
jika malam ini aku terlelap
maka saat itulah hatiku sedikit damai
dan melewati batas sebuah kesabaran
dari ribuan goresangoresan perih
jika malam ini aku masih terjaga hingga fajar
maafkan aku yang masih belum mampu
memberikan sedikit ruang untuk kau isi
dengan segala janji dan tutur manismu
dan jika aku diam dalam kesendirian
maka saat itulah aku mencari jalan untuk pergi
menjauh dari aksaraaksara rindu juga harap
dan yang tersisa hanya sebuah aksara pedas
dan saat ini aku tidak tau harus bicara apa padamu
pikiranku dipenuhi rumusrumus yang membuatku sakit
dan maafkan aku jika hanya ada kalimat pendek
untuk memulai dan mengakhiri sebuah percakapan
maka saat itulah hatiku sedikit damai
dan melewati batas sebuah kesabaran
dari ribuan goresangoresan perih
jika malam ini aku masih terjaga hingga fajar
maafkan aku yang masih belum mampu
memberikan sedikit ruang untuk kau isi
dengan segala janji dan tutur manismu
dan jika aku diam dalam kesendirian
maka saat itulah aku mencari jalan untuk pergi
menjauh dari aksaraaksara rindu juga harap
dan yang tersisa hanya sebuah aksara pedas
dan saat ini aku tidak tau harus bicara apa padamu
pikiranku dipenuhi rumusrumus yang membuatku sakit
dan maafkan aku jika hanya ada kalimat pendek
untuk memulai dan mengakhiri sebuah percakapan
BENANG MERAH
langit hitam berbenang merah
halilintar bergetar menebarkan tebaran getar
Lautan berbingkai melukis mati
bumi berajah api membakar hati
hutan berimba cahaya menyilaukan rasa
halilintar menyambar melontarkan kabar mati
sementara gerimis mempercepat kelam
menyinggung muram desir lari terpontang
tidakkah ada angin syahdu berdendang bersenandung
bait demi bait terlantun
kala jeda saat petir berkumandang
biar seulas senyum mengambang kala mata terpejam
halilintar bergetar menebarkan tebaran getar
Lautan berbingkai melukis mati
bumi berajah api membakar hati
hutan berimba cahaya menyilaukan rasa
halilintar menyambar melontarkan kabar mati
sementara gerimis mempercepat kelam
menyinggung muram desir lari terpontang
tidakkah ada angin syahdu berdendang bersenandung
bait demi bait terlantun
kala jeda saat petir berkumandang
biar seulas senyum mengambang kala mata terpejam
SENJAKU LENGANG MEMBURU PETANG
Waktu itu memburu, lalu lengang.
Dan tinggalah sisa-sisa senja menghadang perihnya hening.
Kerap kali di suatu petang.
Entah rona jingga ada atau mendung yang menghitam
Angan mengerayap mengendalikan sekedar emosi yg tertimbun.
Menyesakkan dada dan menegangkan otot kepala
Senyum kaku tertampar bekas bungah yg pernah terdampar.
Pucuk ara tertawa menggoyangkan setetes embun senja.
Dan alunan payau membisik pilu.
Dimana kau? aku ingin kau disini
Sekedar ingin bercengkrama denganmu malam ini.
Mengharap waktu secepat kilat menghantarkan ku padamu
Kekasih yg terbungkus selubung awan.
Lembut meneduhkan riakan gundah.
Kini sirna tertiup bayu
Entah tersangkut didahan mana
Senjaku lengang memburu petang
Langganan:
Postingan (Atom)

