CATATAN HATI SANG DEWI

Jumat, 13 Desember 2013

TERULANG KEMBALI

Tersentak lamun dalam diam di pekatnya malam
Hati seakan tercabik dan menguak luka
Seujar kata mengaburkan netra
Kembali tersungkur dalam prangka

Kemana rasa hati kan disembunyikan
Sementara gelap pun tak bersahabat kini
Langitpun menangis tiada henti
Seiring bulir bening juga berhamburan dipipi

Selalu saja sama kisah demi kisah
Prasangka cela selalu saja menunjuk hidung
Kembali aku hanya bisa diam
Dalam hati bertanya tanya

Duhai malam..
Masihkah kau setia menemani rinaiku?
Seperti dulu dalam setiap kesahku

Minggu, 15 September 2013

YTH; Hati

Malam ini ingin ku kabarkan padamu
Kalau betapa aku merindu
Lihatlah bulan diatas sana
Bening..
Sebening tatapanmu padaku
Yang ku hanya bisa lihat dalam pejamku


Jumat, 05 Juli 2013

SUNYI

malam ini tak ada puisi
karna hatiku lagi tak mau bersyair
nada nada hilang entah kemana
iramaku sumbang seiring tembang wanita setengah baya
yang teriisak di sudut malam

kini aku hanya mampu mereka ulang kisah
dari halamaan halaman buram yang termakan rayap
yang tersisa penggalan aksara yang kehilangan makna
sementara malam kian pekat kelam dan larut
dan kesunyian makin meraja

SEBELUM MALAM BERAKHIR

Musim telah berubah dan terus berubah
Tapi musim duka dihatiku masih saja tetap
Semusim masa terlewat siasia
Sewindu rindu terbengkalai di dalam mimpi
Terlupa tercampak dimana

Semilir angin yang berhembus menerpa ragaku
Hanya mampu meniup setetes airmata yang jatuh pelan
Kabut yang menutupi relung hatiku masih saja tebal
Tak tersibak sedikitpun

Kepadamu..
Aku menanyakan janji janji yang dulu terucap
Diantara tawa dan tangis bahagiaku
Kemana kau titipkan
Atau kelembah mana kau membuangnya
Aku ingin kau menjawabnya
Sebelum malam berakhir

JINGGA

jingga menyapa manja
membelai wajah dengan rona
tersenyum mesra memandang jelata
bayu sepoi semilir menggelitik raga
membuat rangkulan sendiri dalam hela
kembali ku hampiri singgasana
pertanda mulai tapa sunyi beribu mantra

KUJEMUR SEGALA DUKA

Seperti juga aku
Masih seperti malam yang lalu
Membaca syair bersuluh kunangkunang
Angin dingin memaksaku berkalikali
Membunuh rindu
Bilamana matamu menetesi sukmaku
Maka bergegas menengok awan

Sebisabisanya kutengadahi langit
Adakah walau sebiji bintang ?

Syair membasah di jelagamalam
Untai demi untai kujemur di ayatayat zikir
Kujemur segala duka

KEMARAU DIAM

rumput kering
tanah di persimpangan jalan
burung-burung bersedu-sedan
“kemarau kapankah berganti”